boku no sekai wa.. subarashii

the two-day travel, and the wedding

Posted on: 5 Juli 2010

tugu apa ya ini? hehehe

tugu apa ya ini? hehehe

Halo semua, sudah beberapa minggu ini aku tidak meng-update blog ku, hehe. Kali ini blog ku akan menceritakan perjalananku selama dua hari menuju Malang dan Blitar dalam rangka menghadiri pernikahan sahabat dekatku Miladiah Putri Handayani atau yang dikenal dengan nama Yani.

Beberapa minggu yang lalu aku menerima kabar bahwa Yani akan menikah.. “cepet juga Yani nikah”, pikirku. Yani menikah dengan seseorang yang ternyata temanku juga, meskipun dari angkatan yang lebih tua. Hohoho, mas Dhoni alias saudaranya si Maulana..😀

Undangan yang tiba 3 minggu sebelumnya membuatku dapat mempersiapkan diri menuju Blitar dengan mengumpulkan informasi transportasi apa yang dapat membawaku kesana. Buat temen-temen yang akan menikah dan menyebarkan undangan, harap disebar 2-3 minggu sebelum acara. Karena hal tersebut dapat membuat yang diundang dapat mempersiapkan diri dengan baik, beneran nih…!! Jangan suka serba mendadak..!! Apalagi tempat mantenannya ada di daerah yang agak jauh.

Story went on. Aku mulai menghubungi teman-teman seangkatan FBA yang dapat undangan. Setelah berdiskusi kesana kemari, disimpulkan hanya aku saja yang dari Jogja yang dapat berangkat, teman yang lain tidak bisa berangkat dengan berbagai alasan (tapi sudah nitip salam, hohoho, ada yang nitip kado malah). Meskipun akhirnya sendirian, aku putuskan tetap berangkat.

Setelah beberapa kali menyusun rencana, disepakatilah bahwa aku akan menggunakan jasa kereta api menuju Malang, lalu di Malang aku akan bertemu teman kuliah (Meli) yang sekarang berdomisili di Pandaan. Dari Malang kita akan menaiki bus bagong ke Kecamatan Bêncè (bukan Bèncê lho mbacanya :D). Oiya, bus bagong itu kalau di Jogja mirip dengan Bus Baker itu lho, bus ini melayani rute Malang-Trenggalek.

And off i go. Aku berangkat dari Jogja pada pukul 02.30 (keretanya molor sejam, buset). Setelah beberapa tahun tidak berkereta api, ternyata sekarang kereta api eksekutif mengalami peningkatan di bagian sarananya. Diantaranya kursi yang lebih lapang, pintu masuk gerbong yang sudah memakai bantuan mesin (ada tombole lhoo..!!), LCD TV dan tanda gerbong digital.

Sesampainya di Stasiun Madiun, kereta api “memogokkan dirinya” selama dua jam. Ya. Dua jam YANG MEMBOSANKAN. Di stasiun ini aku mencoba Sego Pecel (yang katanya) khas Madiun. Rasanya sama sih, tapi enaak (apa mungkin karena kelaparan haha). Setelah bertolak dari Madiun, si kereta pun masih doyan bolak balik berhenti sehingga perjalanan molor EMPAT JAM (lumuten tenan)…!!

stasiun kereta api malang

stasiun kereta api malang

よかった。。aku sampai juga di Malang. Aku turun di stasiun Malang Kota Baru, dan hitung-hitung. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan apel dan Arema Malangnya ini🙂. Disini aku sudah ditunggu Meli untuk segera melanjutkan perjalanan dari terminal Gadang menuju Bêncè.

Perjalanan dari Malang menujuBêncè memakan waktu kurang lebih dua jam menggunakan transportasi bus bagong. Ancer-ancer (bahasa Indonesianyan apa ya? Huehue) yang diberikan Yani adalah pom bensinBêncè baru. Ada satu hal yang menarik, pada saat ditanyai pak kernet

“mana Mas?”

Aku jawab dengan pedenya, “Bèncê, Pak”.

Hahahahaha dasar pethuk..!!

Si pak Kernet pun tersenyum, “Bêncè, Maaas..”😀

Sesampainya di rumah Yani, suasana pedesaan terasa sekali di Bêncè ini. Dan ternyata rumahnya besar dan luaaaas..!! @_______@

pemandangan di halaman rumah yani yang luas

pemandangan di halaman rumah yani yang luas

Rumahnya bergaya pedesaan tetapi tidak meninggalkan kesan lapang nan mewah, asik juga punya rumah seperti ini di masan depan, hohoho. Aktivitas pra-wedding party terasa sekali karena yang unduh mantu disini adalah pihak keluarga mempelai wanita. Sebagian sanak saudara dari keluarga besarnya si Yani (sepertinya) tumplek disini untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Aku dan Meli cuma “genep-genep wae” disini, karena kerjaan kita malah minjem motor untuk berkunjung ke kota Bung Karno (Blitar kota) dan menonton piala dunia..😀

Keesokan harinya, sejak pagi hari kesibukan semakin terasa disini. Aku dan Meli juga menjadi dua orang diantara puluhan orang keluarga besar kedua mempelai yang menjadi saksi sahnya pernikahan mereka berdua. Sebelum ijab qobul dimulai, tampak mempelai pria sudah menghabiskan dua gelas air putih dan terus-menerus terbatuk, sementara Yani si mempelai wanita tersenyum bahagia.

senyum dan tenggakan air putih

senyum dan tenggakan air putih

smile..!!

smile..!!

Ahahahaha.. Teman-teman dekat yang dulu berjuang bersama, bergila bersama, jalan-jalan bersama, praktikum bersama, sekarang sudah mempunyai jalan sendiri, turut berbahagia.. =)

Siangnya aku dan Meli kembali ke Blitar. Sebenarnya sih rencana A kita itu, Meli menemukan gereja untuk misa sore di hari sebelumnya (Sabtu), sehingga pas hari pernikahan (Minggu), sudah santai. Namun karena ada beberapa hal, Meli terpaksa harus melaksanakan misa di Hari Minggu sore di Malang. Aku? Karena aku ini cuma “genep-genep wae” di rumah Yani, aku jadi nggak enak kalau kelamaan disini. Jadi dilaksanakanlah rencana B yang meliputi:

a. Meli dapat gereja tempat Misa di Malang

b. Aku dapat sedikit waktu untuk jalan-jalan sebentar di Malang

c. Aku berangkat dari Malang, tidak dari Blitar seperti rencana A

jalur GA, lewat depan stasiun Malang

jalur GA, lewat depan stasiun Malang

Jadi, berangkatlah kita ke Malang kembali pada saat siang pukul 12.45. Sesampainya di Malang, kita menaiki angkot jalur AG menuju Alun-alun kota Malang. Perlu diketahui, angkot Malang mempunyai sistem kode yang (mungkin) bagi orang awam/wisatawan aneh (seperti ABG, AMG –koyo Mercy wae-, AG, GA, dan MM). Masing-masing huruf mewakili nama daerah atau tempat tujuan dari angkot tersebut. Dan angkot disini banyak jumlahnya, tidak seperti di Jogja, hehe.

Anak Baru Gede -pak, Englishnya kurang pas tuh =)-

Anak Baru Gede -pak, Englishnya kurang pas tuh =)-

jalur ADL, entah apa kepanjangannya

jalur ADL, entah apa kepanjangannya

Sampai di Alun-Alun kota Malang deh akhirnya..!! Dan Malang dalam keadaan gerimis..!! Perut kita yang kembali keroncongan membuat kita harus mampir ke rumah makan untuk mengisi kembali perut yang kosong ini, hehe. Setelah perut terisi, maka kita membeli agak banyak sedikit (sekali) oleh-oleh khas Malang dan mencari Gereja Katolik tempat Meli akan mengikuti misa. Dengan bantuan Google Earth, kita jadi tahu kalau ternyata ada dua buah gereja di dekat alun-alun.

Saat menyeberangi jalan raya di dekat alun-alun, kusadari bahwa perempatan besar seperti ini TIDAK MEMILIKI lampu lalu lintas..!! Lampu lalu lintas (baca: bangjo) yang tidak dipasang ini membuat SEBUAH zebra cross yang dipasang tidak

membantu pejalan kaki menyeberang dengan aman.

jadi ndak bisa menyeberang dengan "lebih nyaman" deeh

jadi ndak bisa menyeberang dengan "lebih nyaman" deeh

Eh?

Salah ya?

Meskipun Zebra Cross sudah dipasang, mau ditebelin dan dipasang sebanyak apapun juga tidak akan membuat pengendara kendaraan bermotor berhenti jika melihat seseorang menyeberang (itulah Indonesiaa..).

Lanjut, Gereja pertama yang kita kunjungi sepertinya tidak dibuka (sepengetahuanku), maka kita segera bergerak menuju gereja yang kedua karena waktu menunjukkan hampir pukul 16 sore (keretaku berangkat pukul 16.30 dan aku masih harus mencari angkot GA/MM). Gereja yang tepat menurut Meli, dan kita berpisah jalan disini. Genki da ne, Meli-chan..!!

Waktu semakin sempit, langkahku semakin cepat untuk mencegat angkot jalur GA/MM. alhamdulillaah langsung dapat..🙂

Di dalam angkot aku bertanya kepada pak Sopir apakah Malang selalu hujan seperti ini. Pak Sopir mengatakan bahwa baru sore ini Malang gerimis, selama beberapa hari belakangan panas.

Sesampainya di Stasiun Malang Kota Baru, aku langsung menuju bagian peron, “Misi mbak, Gajayana sudah datang atau belum mbak? Berangkat jam berapa dari sini?” si mbak penjaga Peron menjawab, “Gajayana sebentar lagi datang, Mas. Berangkatnya pukul 16.30.”

bagian depan stasiun Malang

bagian depan stasiun Malang

Lega mendengarnya, karena aku masih punya beberapa saat untuk mengabadikan stasiun ini dalam foto-foto perjalananku. Hehe. Ckrek, ckrek si kamera bekerja dengan giat..!! Karena cuaca mendung dan gerimis, maka aku harus melidungi kameraku dengan ekstra..🙂

Saat memasuki stasiun kembali, ternyata kereta api yang akan kutumpangi sudah stand by disana. Bye bye Malang, semoga jika aku berkunjung lagi kesini, aku akan punya lebih banyak waktu untuk memutarimu..🙂

salah satu landmark di area alun alun kota malang

salah satu landmark di area alun alun kota malang

4 Tanggapan to "the two-day travel, and the wedding"

wkwkkwkwkw.. ternyata aku ada dalam ceritamu tho… aya2 wae kamu gi.. salam ya untuk mas mu (maulana) hahahha

ya ada noh
kan bagian dari perjalananku hehehe

mas mau tanya kl dari stasiun kota baru ke alun-alun naik angkotnya GA jg?

oh iya mbak naik angkot bisa, nanya dulu tapi ke arah mana angkotnya menuju ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

tuiter saya

My Flickr Photos

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: