boku no sekai wa.. subarashii

Pengendara Sepeda Motor : The Story of Mental Tempe (some of them)

Posted on: 13 Desember 2010

Beberapa hari ini saya sewot sekali dengan pengendara MOTOR. Ya, sepeda motor yang jumlahnya setiap bulan semakin meningkat dan tidak terkendali! Saya sangat merasakan bagaimana byayakan-nya mereka di jalan raya ketika saya sedang menyetir mobil. Padahal saya juga pengendara motor lho, hehehehe.

Inilah kebiasaan-kebiasaan buruk para pengendara sepeda motor di Jogja khususnya, yang berhasil (halah) saya himpun selama saya berkendara di sini. Mungkin bisa saja saya termasuk salah satu diantaranya, hehehehehehe..

1. Tidak menggunakan HELM saat berkendara di jalan raya — kaya’ yakin banget selamat di jalan po ya?

2. Sudah pelan, di tengah jalan pula — ini juga maut sekali, serasa jalan milik sendiri

3. Saat akan berbelok, suka lupa tidak menghidupkan lampu sein (itu lho, yang warnanya ORANGE!!), lalu bebas nyelonong kesana-kemari —nah yang seperti ini sangat rentan mengalami kecelakaan. Dan hebatnya, mereka bisa menyalahkan yang menabrak! apalagi yang nabrak mobil..

4. Ada lagi yang hobinya menyalakan lampu sein tapi tidak berbelok — tentu lebih memusingkan yang berada di belakangnya..

5. MEROKOK sembari berkendara — pak, bu, mas, mbak, dik, mbah, sepertinya kok sibuuuk sekali, merokok saja ndadak sambil bermotor? mbok ya berhenti dulu, cari tempat yang SESUAI, baru ngudut

6. Ini saudaranya nomor 5, suka sekali SMSan sembari berkendaraanda pasti sudah bosan hidup!!!! mbok ya mlipir (menepi) dulu too!!!

7. Lebih parah lagi, motor yang dikendarai tidak dilengkapi dengan lightning yang memadai, lampu depan mati, belakang mati.. masih mending mati, lha ini nggak ada lampunya??!!benar-benar pede di jalan raya, apalagi malam hari, disangkanya semua orang perpenglihatan baik

8. Gaya nyetirnya sudah seperti stuntman (atau memang benar-benar stuntman) kala keadaan di jalan raya sedang ramai — wuih tipe seperti ini belagunya amit-amit wis. Perasaan cuma pake motor bebek 100-125 cc aja gayanyaaaa… *eneg*… tapi mungkin kasihan juga dengan orang seperti ini, mendambakan menjadi pembalap (pemuda berbadan gelap, haha) tapi gagal…

9. Ditambah lagi dengan suara knalpot yang MEMEKAKKAN TELINGA, entah bersuara cempreng atau berat sekali… — entah apa ada gangguan dengan pendengaran orang-orang seperti ini, mungkin mereka mampu mendengar namun tidak mampu “merasakan”..

10. Berboncengan melebihi kapasitas, tiga sampai empat orang, bahkan lebih (memang bisa?) — ayolah yang eman-eman sama motor sendiri, kasihan sekali dia diberikan beban melebihi kapasitasnya.. >______<!!

11. Tidak sabaran saat menunggu traffic light berubah warna menjadi hijau. Sebagian traffin light sekarang sudah dilengkapi timer yang bisa dijadikan acuan kita, nah adaaa aja pengendara yang sudah bablas sebelum lampu timer menyentuh angka 0 — benar-benar tidak lolos ujian kesabaran

12. Ini masih saudaranya nomor 11. Di saat lampu traffic light baruu saja berwarna hijau, mereka menekan tombol klakson selama mungkin, padahal yang didepannya saja belum bisa jalan — ini jelas merupakan ujian kesabaran untuk yang berada di depannya, dan yang hobinya klakson2 disaat seperti ini sepertinya juga tidak lolos ujian kesabaran..

13. Ini juga masih satu keluarga dengan nomor 11 dan 12. Saat ada mobil yang akan menyeberang (tanda: moncong mobilnya sudah mulai memenuhi bahu jalan, tanda akan menyeberang), mereka tidak sedikitpun memberikan kesempatan si mobil untuk menyeberang malah menambah kecepatannya! — orang kaya’ gini ini, dikasih lampu dim pun tidak mempan, jelas tidak lolos ujian kesabaran barang beberapa detik saja..

14. Memiliki dua buah spion tapi tidak menggunakannya. Memiliki sebuah spion di kanan atau kiri saja, atau malah tidak mempunyai keduanyapadahal spion berfungsi memudahkan leher kita untuk tidak perlu menoleh 180 derajat, hehehe. Orang kaya’ gini mah disalip di titik butanya nggak bakalan tahu..

Terkadang Lebih seringnya, para pengendara motor kita menggabungkan sifat-sifat diatas lho. Jadi tambah runyam kan keadaan jalan raya? Begitulah mental pengendara motor kita, mungkin saja suatu saat atau di masa lalu saya dan anda pernah menjadi pengendara bermental tempe seperti diatas.

Mari kita berubah! Siapa yang akan memajukan lalu lintas kalau tidak kita mulai dari diri kita sendiri?🙂

4 Tanggapan to "Pengendara Sepeda Motor : The Story of Mental Tempe (some of them)"

yang sms di jalan mas? wahaha

oh ya lupa :p

*sedang mengedit hahahahhahahaha

hahaha. kalo yang pake lampu sein itu kadang emang lupa matiin mas :p *curhat

hehehehhe
asal jalanannya pas sepi ngga papa
😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

tuiter saya

My Flickr Photos

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: